Minggu, 04 November 2012

Mindset Orangtua dalam mendidik anak

MARI KITA BELAJAR DARI SEJARAH

Suatu hari ketika kami talkshow ada orang tua yang dengan kerasnya menyanggah apa yg kami coba paparkan, berhubungan dengan mendukung sukses anak sejak usia dini.

Tapi ayah Edy kalo sistem pendidikannya udah bagini mau bagaimana lagi...?


"habis kalo gak cukup uangnya mau apa lagi...? Pasrah saja lah... akhirnya....ayo dong beri kami solusi !"

Inilah solusi dari kami;

Mari kita simak baik-baik dan berulang-ulang kisah berikut ini:

Bocah kecil yg bernama Thomas Alva Edison dulu baru bersekolah 3 bulan di Sekolah Dasar Ohio AS, di keluarkan dari sistem sekolah konvensional Amerika Serikat zaman itu, karena dinyatakan Learning Disability (Tidak mampu belajar atau lemot).

Apa yg terjadi pada Thomas Edison saat dia dewasa jika Nancy Alliot ibundanya dulu berkata hal yg sama dengan kita para orang tua kebanyakan.

”ya sudah Thomas, kalo sistem pendidikannya sudah begitu mau bagaimana lagi...? "

"Ya sudah Thomas, kalau Mommy gak punya uang habis mau apa lagi...? "

"Ya sudah Thomas, Kalo kamu memang otaknya gak mampu seperti itu ya mau bagaimana lagi...?"

"Ya sudah terima saja nasib kita, memang kita keturunan orang susah dan gagal habis mau gimana lagi...?”


Namun bukan itu yg di ucapkan oleh Nancy Alliot pada Thomas anaknya.

Thomas sayang anak ku tercinta....

KAMU ITU SESUNGGUHNYA ANAK PINTAR NAK !!!
KAMU ITU SESUNGGUHNYA ANAK HEBAT NAK !!
BIAR MAMAMU SENDIRI YG AKAN MENDIDIK KAMU MENJADI ORANG LUAR BIASA !!
KITA AKAN BUKTIKAN BAHWA KAMU BUKANLAH SEPERTI APA YG MEREKA KATAKAN !!!!

dan Tahukah anda apa buah dari ucapan itu.....?

Saat dewasa jadilah Thomas Edison seorang Ilmuan dan salah satu Jenius Dunia dengan lebih dari 1000 temuan yg di PATENKAN.

Jadilah Thomas Edison pengusaha besar pendiri dan pemilik GENERAL ELECTRIC, yg memproduksi beberapa komponen Pesawat Jet Boing.

Padahal Nancy Elliot hanyalah ibu biasa, seorang SINGLE PARENT, yg bekerja untuk menafkahi keluarganya yg miskin, zaman itu (tahun 18XX hingga awal thn 1900) belum banyak toko buku seperti sekarang, perpustakaan masih terbatas, belum ada lampu listrik untuk belajar (karena Thomas yg baru menemukan lampu listrik), belum ada komputer, belum ada internet apa lagi Mbah Google yg bisa menemukan info apa saja dengan ujung jari kita. Belum ada mobil, angkot yg memudahkan pergerakan mendapatkan materi pembelajaran, belum ada dana Bos dsb....

Sistem pendidikan Nancy Alliot inilah yg pada akhirnya saat ini di beri nama HOME SCHOOLING.


Keluarga Indonesia yg berbahagia,

Bandingkanlah zaman Nancy-Edison dengan zaman kita....? Jauh sekali bukan.... jadi jika kita gagal mendidik anak malu rasanya dengan Ibundanya Thomas Edison.


Bagitu juga dengan BILL GATE orang terkaya di dunia, yg Drop Out dari Harvard University.....,

Apa akibatnya jika orang tua Bill Gate marah2 dan mengatakan.....

“Kamu ini bagiamana sich....!!! sekolah gak serius, cuma main komputer melulu...., buang2 waktu dan uang orang tua... bikin malu mama....!!! "Mau jadi apa kamu jika tidak mau bersekolah lagi ...?”

"Kamu tahu Harvard itukan sekolah Favorit, sekolah Unggulan, terakreditasi A dsb....dsb..... kamu memang anak yg aneh...benar-benar kamu telah membuat mama kecewa Bill....”


Nah.... kali ini Anda sendirilah yg menebak apa akibatnya ???

Pertanyaan besarnya sekarang adalah jenis orang tua yg manakah kita ???

Ingatlah selalu bahwa Hidup ini pilihan bebas dan nasib anak kita di tentukan oleh sebagian besar pilihan demi pilihan orang tuanya.

Itulah mengapa pak Munif Chatib pernah berkata bahwa Orang pertama yg membunuh masa depan anaknya seringkali adalah Orang Tuanya sendiri.

Mari kita belajar sejarah dan mari kita berkaca pada sejarah...!

Karena sejarah adalah nyata, konkret, sudah terjadi, terbukti dan bukan hanya sekedar pendapat orang2 yg mengaku dirinya ahli dan pakar dibidangnya.

Mari kita renungkan dan segera ambil keputusan hari ini juga !!
Karena nasib anak-anak kita mendatang di tentukan oleh keputusan demi keputusan orang tuanya sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar